CERPEN
Kembalikan Ibuku
Inilah cuplikan kisah masa laluku. Barangkali aku akan menjadi orang pertama yang pernah dibenci oleh ibuku sendiri didunia ini.
Dulu, kami hidup dalam kehangatan keluarga. Tapi kehangatan itu musnah semenjak ayahku pergi meninggalkan ibuku tanpa alasan.
Kejadian itu masih terekam jelas dan mungkin takkan pernah bisa terlupakan.
Setelah kejadian itu hanya tangisan ibu yang terdengar ditelingaku dan kakakku, Leora. Jika ibu menangis, aku dan kakakku hanya bisa memeluk ibu dan larut bersama airmata itu.
Terhitung sudah lima tahun ayah meninggalkan aku, kakakku dan ibuku, Ibu menikah lagi karena tak sanggup membiayai kehidupanku dan kakakku.
Lima tahun yang lalu ketika aku sedang duduk dibangku 6 SD dan kakakku 2 SMA. Kakakku dan aku memang berbeda lima tahun tetapi wajah kami mirip seperti sama-sama masih SD.
Dulu kami hidup dengan segala kecukupan dan hampir kesempurnaan. Tetapi aku tidak tahu bahwa ayah dan ibuku sering bertengkar ketika aku dan kakakku sudah terlelap.
Ayahku kejam, kasar, dan bahkan sering memukuli ibu. Ibu ku menyembunyikan semuanya dengan sempurna seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi semenjak malam itu, malam dimana ibu ditinggalkan ayah tanpa alasan. Ibu merubah semuanya sifatnya, bahkan aku hampir tidak mengenali ibuku, apakah itu ibuku yang dulu, ibu yang penuh kasih sayang, ibu yang selalu memelukku ketika aku bersedih.
Ibu tak lagi memperhatikan aku dan kakakku, tak lagi memperlihatkan senyum ketika aku pertama kali membuka mata, sekarang ibu sibuk dengan urusan yang mulai dirintisnya sendiri, karena semenjak ditinggal ayah, semua harta benda dibawa oleh ayah. Hanya tersisa rumah yang penuh kenangan ini dengan segala perabotan rumah yang ada.
Aku benci ayahku, mengapa dia hanya meninggalakan luka dan pergi begitu saja meninggalkan ibu yang sabar, tabah, dan penyanyang layaknya seorang istri yang sempurna. Mulai saat itu juga aku dan kakakku bertekad untuk tidak mengingat-ingat ayah bahkan mengenalnya lagi.
Tapi apa yang terjadi sekarang? Semuanya berubah, ibu tak lagi tersenyum padaku ataupun kakakku. Aku dan kakakku hanya bisa menangis dan menahan pedih. Tapi ada satu hal yang membuat kami kuat bahwa kami yakin, ibu akan kembali seperti dulu meskipun tanpa ada ayah disisi kami.
Kepergian ayah dengan cara seperti itu tak hanya menghancurkan ibu tapi juga telah merampas dan menghancurkan indahnya dunia masa kecilku. Sekarang ibuku sudah menikah lagi dengan seorang pengusaha terkenal, namanya Ayah Adam. Dia baik, penyayang, murah hati, dan sering juga meninggalkanku dan ibuku ke luar negeri.
Sekarang Kak Leora meneruskan kuliah ke luar negeri dan hidup disana. Meskipun di luar negeri terkadang Kak Leora menelepon hanya untuk menanyakan kabarku dan ibu. Hanya tersisa aku dan ibuku di rumah sekarang.
Aku mulai mencuci pakaian sendiri, menata kamar sendiri, memasak sendiri dan semua urusan ku kerjakan sendiri.
Ada satu kata-kata yang selalu ku ingat, kata-kata ketika ibu memarahiku, ketika aku lapar dan tidak punya uang kemudian aku bertanya pada ibu
“Ibu aku lapar dan uang jajan ku sudah habis, bolehkah aku meminta uang untuk beli makan?”
Dengan tegas dan penuh amarah ibu menyambar pertanyaan ku dengan cepat
“Tidak !!! Kamu berusahalah sendiri, ibu sudah memberi uang mingguan untukmu, uang itu sudah cukup, kamu harus memanfaatkan uang itu dengan baik sendiri, sudah sana pergi ibu sedang sibuk”
Aku pun meniggalkan ibu di ruang kerjanya dengan perasaan hampa. Bahkan kelihatannya aku dan ibuku seperti orang asing yang tak pernah kenal sama sekali.
~Tak Lama Kemudian~
Ibu meninggalkan ku selama-lamamya. Aku terpuruk, hatiku terpukul bahkan aku tetap sayang ibuku. Dan sekarang ayah dan ibu kandungku meninggalkanku. Luka yang dulu belum sembuh pun terbuka kembali, luka itu malah semakin parah.
Ini adalah luka yang dibuat oleh ayah dan ibu kandungku sendiri.
Tapi setidaknya aku masih mempunyai Ayah Adam dan Kak Leora, meskipun Kak Leora jauh dan Ayah Adam bukan ayah kandungku tapi mereka menjadi penyemangatku.
Ketika ibu tiada, Ayah Adam pulang untuk memakamkan ibu dan Kak Leora tidak bisa hadir karena hari itu Kak Leora ada ujian semester.
Ayah Adam menyemangatiku dan perhatian padaku. Tapi Ayah Adam terlihat aneh, aku tak bisa membaca tatapannya itu, tatapannya ada yang sedih, bahagia, atau sebagainya, tatapannya juga seperti ada rahasia dan seakan ada tembok yang menghalanginya. Aku bertekad untuk bertanya kepada Ayah Adam
“Ayah Adam, ada apa? Sepertinya ada sesuatu”. Ayah Adam hanya terdiam dan aku pun kebingungan dan kehabisan kata-kata. Ketika sedang diliputi kecemasan, Ayah Adam merogoh sakunya dan memberiku sebuah kotak kecil.
Dan Ayah Adam berkata
“Nis, ini ada titipan dari ibu. Ibu berpesan kepada ayah jika dia sudah tiada, kotak ini harus kuberikan kepadamu. Dan sekarang ibu sudah tiada maka aku memberikan kotak ini padamu”.
Aku menerima kotak itu, aku penasaran sekali semua perasaanku campur aduk, aku membuka kotak itu. Dan ketika ku buka ternyata didalamnya berisi setumpuk uang dan secarik kertas untukku.
Teruntuk Anakku Ganis
Maafkan ibu nak, karena semua perlakuan ibu kepadamu selama ini.
Sikap dingin, kasar, dan tidak peduli lagi padamu selama ini semata-mata ibu lakukan agar kamu membenci ibu, dengan begitu jika ibu tiada maka kamu tidak akan kesusahan.
Ibu mengkhawatirkan mu, kamu masih kecil, bagaimana bisa kamu melanjutkan hidup? Bagaimana dengan masa depanmu.
Ibu melakukan semua ini agar kamu hidup mandiri.
Walau ibu tak pernah bertanya kepadamu, namun didalam hati ibu mengkhawatirkan mu, apapun yang kamu lakukan ibu selalu mengawasimu.
Ketika kamu lelah dan lapar, ibu membiarkanmu masak sendiri, sebab ibu berharap jika ibu tiada, kamu bisa jaga diri.
Maafkan ibu nak, pasti kau menganggap ibu ini kejam dan kasar kepadamu, tetapi tidak, ibu selalu menjaga dan mengawasimu.
Dulu ibu mengerjakan semuanya untukmu, tapi jika ibu tiada, siapa lagi yang akan menjagamu? Semuanya ini akan bergantung pada dirimu sendiri
Sekarang jagalah dirimu baik-baik.
Didalam kotak ini ada 5000 dollar uang hasil kerja ibu sendiri untukmu, ibu berharap kamu dapat menggunakan dengan sebaik-baiknya karena kamu adalah anak ibu yang pintar dan cerdas, dan sekarang ibu meminta bantuan Ayah Adam untuk menyampaikannya kepadamu. Ibu harap kamu dan Ayah Adam dapat berhubungan baik dari hari ke hari dan hidupmu akan mudah dilalui.
IBU BANGGA KEPADAMU NAK DAN IBU SAYANG PADAMU DAN AKAN SELALU SAYANG
Salam Rindu
Ibu
“Aku juga sayang ibu” balasku sambil memelukku secarik kertas itu.
Airmata pun membasahi pipiku dengan begitu derasnya setelah membaca surat dari ibu.
“ Terimakasih Ya Allah kau telah mengembalikan ibuku” batinku. Meskipun ibu sudah tiada, menurutku dia sudah kembali ke sisiku meskipun tanpa raga. Usaha dan doa ku selama ini ternyata tidak sia-sia.
“Ibu bahagia ya di atas sana, di sini Ganis sangat bahagia” ucapku memandang langit sambil membayangkan ibu.
END